Selasa, 07 Januari 2014

Perempuan Kini Perantara Kasus Korupsi

Kesan serta kecenderungan perempuan lebih bersih ketimbang lelaki soal urusan korupsi, sepertinya harus ditimbang ulang. Penelitian dosen Jurnalistik Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran (Unpad) Aceng Abdullah dalam disertasinya yang berjudul "Komunikasi Korupsi" menemukan fakta lain. 

"Perempuan umumnya digunakan sebagai negosiator atau perantara karena punya kemampuan berkomunikasi tentang korupsi," kata Aceng di sela sidang terbukanya di Ruang Sidang Program Pascasarjana Unpad, Rabu, 31 Juli 2013.

Dari hasil risetnya, banyak perempuan yang punya interaksi bagus, supel, dan kepercayaan dirinya tinggi. Kemampuan itu umumnya dipakai untuk menjadi negosiator atau perantara korupsi. 

Aceng menyebut beberapa nama, mulai dari perempuan yang menjadi calo mahasiswa baru ke kampusnya, hingga yang berurusan dengan KPK, seperti Nunun Nurbaitie, Malinda Dee, Miranda Gultom, Angelina Sondakh, serta Arthalita Suryani, Neneng Sri Wahyuni, Yulianis, Wa Ode Nurhayati.

Sebelumnya, menurut Aceng, citra perempuan sebagai sosok yang jujur pernah mengemuka dari hasil penelitian Bank Dunia pada 1999. Hasrat perempuan untuk korupsi disebutkan jauh lebih rendah dibanding lelaki. Karena itu, Bank Dunia merekomendasikan semua negara agar memberi lebih banyak kursi untuk perempuan di pemerintahan, parlemen, dan kehakiman untuk mengurangi tingkat korupsi. "Perempuan itu korban kesewenangan pelaku korupsi lain," katanya. Itu sekarang
berubah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar